Memotret, saja.
Hampir saja aku memencet tombol live view dan recording video, tapi sepersekian detik setelahnya aku berubah pikiran.
”For this time, let’s just having fun doing photography only”
Dan begitulah, sore itu, aku hanya memotret, di Ton Kedai, tempat terpilih kami untuk berbuka puasa.
Pekerjaan baru, kantoran 8-5, sejak Januari 2026. Artinya, aku harus memberikan tenaga, waktu, dan fokus pikiran untuk pekerjaan, sepenuhnya, dari senin hingga jumat. Fotografi menjadi kedua. Ia aku sisihkan di sabtu dan minggu.
Tapi ternyata, weekend-nya malah aku gunakan sepenuhnya untuk recharge tenaga dan pikiran dengan diam saja di rumah, melakukan hal-hal dangkal yang ga butuh banyak berfikir. Fotografi dan kameraku?— lambat laun menjadi asing di mata dan tangan. So sad.
Meski begitu, aku tetap selalu kangen memotret. Makanya, jika ada kesempatan pergi-pergi, most likely pasti akan bawa kamera, dan di momen nge-date berdua sama istri sambil bukber di Ton Kedai, tempat yang belum pernah aku kunjungi, agenda sisipannya adalah memotret juga.
Karena itulah, meski gatel pengin sambil record video juga buat nanti update di sosmed, aku urungkan niat tersebut. Hanya ingin melakukan yang simpel namun berarti. Jadi, sore itu, aku cukupkan dengan memotret saja. dan kusenang.
Kuakui, merekam dan editing video itu lebih menyenangkan karena semua indera terpenuhi, ada audio dan visual yang bergerak hidup. Tapi, setelah mencoba mengasah skill videografi + editingnya juga, video always come second. Akupun selalu ingin dikenal sebagai seorang fotografer.
Kayaknya, setelah ini, kalo untuk urusan personal, aku akan mencukupkan diri dengan memotret saja dan menahan diri untuk tidak merekam video juga.





